SAAT AKAN TURUN SUJUD, LUTUT DULU ATAU TELAPAK TANGAN YANG PERTAMA HINGGAP DI TEMPAT SUJUD?

0 Comments 12:00 PM


Ilustrasi

LUTUT DULU ATAU TELAPAK TANGAN YANG PERTAMA HINGGAP DI TEMPAT SUJUD?

Sujud merupakan salah satu gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah. Namun ketika seseorang turun dari rukuk akan melakukan sujud maka telapak tangan dan lutut menjadi dua anggota tubuh yang diperdebatkan mana yang terlebih dahulu hinggap di tempat sujud.

Syeh Zainudin Al-Malibari dalam Fathul Muin sebagaimana ulama Syafi’iyah menerangkan masalah ini:

ويسن وضع الركبتين أولا متفرقتين قدر شبر، ثم كفيه حذو منكبيه، رافعا ذراعيه عن الارض وناشرا أصابعه مضمومة للقبلة

“Disunnahkan untuk awal kalinya meletakkan dua lutut yang terpisah dengan jarak satu kilan (jengkal) disusul dengan meletakkan dua telapak tangan sejajar dengan pundak sedang dua lengannya diangkat dari tanah dan membentangkan jari-jari tangan dengan posisi saling berhimpitan, kemudian disusul dengan meletakkan kening dan hidung bersamaan, merenggangkan dua telapak kaki dengan jarak satu kilan dan menegakkan keduanya dengan menghadapkan jari-jarinya ke arah qiblat.”

ثم جبهته وأنفه معا، وتفريق قدميه قدر شبر ونصبهما موجها أصابعهما للقبلة، وإبرازهما من ذيله.

kemudian dahi dan hidung diletakan secara bersamaan, dan merenggangkan kedua telapak kaki berjarak sekira satu jengkal dengan mendirikan keduanya sambil menghadapkan jari-jari kaki ke arah qiblat. Sunnah untuk memperlihatkan kedua jari-jari kaki dari sela-sela pucuk kain penutup bawah.

Maka kalau melihat keterangan kitab Fathul Muin berdasarkan Hadist Wail bin Hujr yang akan datang, urutan langkah saat bersujud adalah sebagai berikut:

1. meletakkan kedua lututnya
2. meletakkan kedua tangannya
3. dahinya bersamaan dengan meletakkan hidung.

Pendapat ini dipakai oleh mayoritas ulama madzhab.

Dalam mengomentari perbedaan ini Syeh Abu Bakar Syatha dalam I’anatut Thalibin memberi catatan:

(قوله: ويكره مخالفة الترتيب المذكور) أي من وضع الركبتين ثم الكفين ثم الجبهة والانف. وخالف المالكية في الاولين فقالوا: يضع يديه أولا ثم ركبتيه. نص عليه ش ق.

“Urutan tertib sujud adalah meletakan kedua lutut, kemudian kedua telapak tangan disusul kening dan hidung. Berbeda dengan madzhab Malikiyyah yang mendahulukan dua tangannya, lantas disusul dua lututnya.”

Pangkal dari perbedaan ini ada yang mengatakan berasal dari dua hadis:

Hadits Pertama : Hadits Wa`il bin Hujr.

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبِتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

“Saya melihat Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan apabila beliau bangkit beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya”.

Hadis lain juga berasal darinya: “Kalau anda ingin sujud jangan sujud seperti duduknya unta (ibil). Maka dahulukan lututnya sebelum kedua tangannya.” Sesuai hadis tersebut, sujud dilakukan setelah dari iktidal dengan cara lutut dahulu turun hinggap ke tempat sujud  kemudian tangan.

Sedangkan, hadis yang kedua berasal dari sahabat Abu Hurairah RA.

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :إذا سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير ، وليضع يديه قبل ركبتيه

Artinya : Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabada : apabila salah seorang diantara kalian sujud (dalam sholat), maka janganlah kalian turun seperti turunnya onta untuk duduk. Maka hendaklah kalian mendahulukan kedua tangan sebalum kedua kaki.

Maka kalau melihat hadist ini urutan langkah saat bersujud adalah sebagai berikut:

1. meletakkan kedua tangannya
2. meletakkan kedua lututnya
3. dahinya bersamaan dengan meletakkan hidung.

Pendapat ini dipakai oleh madzhab Malikiyah.

Penjelasan mengenai asbabul wurud hadis tersebut. Sahabat Wail bin Hujur yang menjadi muara hadis ini termasuk sahabat pertama yang masuk Islam. Dia paling rajin mengamati ibadah Nabi, sehingga termasuk sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan tentang sifat shalat Nabi. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Wail, kata unta diistilahkan dengan ibil. Artinya, unta dalam artian umum atau belum ada beban.

Wail bin Hujr juga hidup pada masa perintah shalat pertama-tama diturunkan. Ketika itu, Nabi masih muda dan sehat. Rasulullah pun tercatat kerap ikut dalam perang besar, seperti Perang Badar dan Perang Uhud. Pada zaman itulah Wail mendapat pesan dari Rasulullah SAW agar jangan sujud seperti duduknya unta.

Unta tanpa beban yang sedang duduk akan mendahulukan tangannya (bagian depan) terlebih dahulu kemudian kakinya (bagian belakang). Nabi pun berpesan agar mendahulukan lutut sebelum kedua tangan agar tidak mencontoh duduknya ibil.

Berbeda dengan hadis tersebut, Abu Hurairah RA sebagai periwayat hadis merupakan sahabat yang baru masuk Islam tiga tahun menjelang Rasulullah SAW wafat. Abu Hurairah pun menyesal karena baru belakangan menjadi Muslim. Untuk mengobati rasa penyesalannya, Abu Hurairah bertekad mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh. Sampaisampai, Abu Hurairah menunggu Nabi saat hendak keluar rumah untuk mencatat semua gerak-gerik dan ucapan Nabi.

Hadis tentang sujud yang diriwayatkan Abu Hurairah pun datang saat Nabi SAW beranjak sepuh. Kalimat yang keluar ibil pada masa Wail berubah menjadi ba’ir. Artinya unta yang sudah ada beban. Berbeda dengan Ibil yang mendahulukan tangan saat duduk, unta dengan beban (ba’ir) mendahulukan kaki kemudian tangan saat hendak duduk. Karena itu, sujud yang di contohkan berdasarkan hadis ini mestilah sebaliknya, yak ni mendahulukan tangan kemudian lutut.

Meski hadis itu datang saat Nabi SAW beranjak sepuh, hendaknya jangan melihat faktor sepuh sebagai penyebab sujud mendahulukan tangan kemudian lutut. Namun, sepuh ini harus diletakkan sebagai ‘ilat’ atau perumpamaan mengenai ketidakmampuan seseorang menggunakan lututnya. Karena ada orang yang belum sepuh, tapi bermasalah dalam lututnya karena penyakit asam urat contohnya.

(I’anatut Thalibin 1/164)

This site is using SEO Baclinks plugin created by Cocktail Family

Leave a Reply

Related Post

SEMOGA ISTIQAMAH “MENDIRIKAN SHOLAT TAHAJJUD”SEMOGA ISTIQAMAH “MENDIRIKAN SHOLAT TAHAJJUD”



⏰ Tahajud Time⏰*🌻⏰TAHAJUD TIME⏰🌻* السلام عليكم ورحمة الله وبركاته۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞═══•❁🌻🌻❁•═══ “`أعوذ بالله من الشيطان الرجيمبِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ🤲🏼اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا

%d bloggers like this: