Pesan Abon Aziz bin Muhammad Saleh berkaitan dengan berdirinya Kuliah atau Kampus di MUDI

0 Comments 3:00 PM


Abu Mudi & Abi Zahrul (Source: FB Abu Mudi)

Pesan Abon Aziz bin Muhammad Saleh berkaitan dengan berdirinya Kuliah atau Kampus di MUDI

Pada suatu hari Abu MUDI di ajak oleh ayah mertuanya Abon Aziz samalanga untuk berpergian ke kota, bireun dalam rangka belanja peralatan bangunan untuk kepentingan dayah tengah di bangun pada saat itu.

Jadi tidak heran kenapa Abu MUDI selalu di ajak untuk mendampingi Abon kemana pun Abon pergi di karenakan menurut cerita beliau, Abu menjabat sebagai bendahara Dayah tatkala itu, dan banyak hal yang harus Abu kerjakan untuk menggantikan Abon di karenakan Abon sudah mulai-mulai sakit-sakitan, jadi posisi abon sudah mulai Abu yang mengisinya seperti “seumeubet” Dewan Guru dan juga lain sebagainya.

Di saat berangkat Abon menggunakan mobil Chavrolet yang sekarang sudah di mesiumkan di Mudi di namakan Mobil keuneubah Abon. Jadi yang menyetir mobil Abon sendiri Abu Mudi yang duduk di samping…… Kenapa sedemikian bukan Abu yang menjadi supir di karenakan Abon takut di saat orang lain yang menyetir jadi terpaksa Abon membawa mobil sendiri pulang pergi.

Jadi di tengah-tengah perjalanan menuju Bireuen Abu Mudi ada satu hal yang ingin Abu tanyakan ke pada Alm. Abon di kala itu karena sudah lama mengganjal dalam pikirannya tentang keputusan dan sikap Abon yang sangat sulit untuk di mengerti dan di pahami maksudnya, tentang masalah Abon melarang santri untuk kuliah di Banda Aceh baik di Unsyiah ataupun di IAIN Ar-Raniry sesudah itu Abon mengizinkan Abon Tanjongan untuk duduk di kantor KUA samalanga bahkan boleh mati dayah demi menduduki perkantoran tapi Abon Aziz ridha buat beliau, dari sinilah Abu MUDI selalu bertanya-tanya dalam hal ini karena dari keputusan Abon ini sangat bertolak belakang dalam dua buah problem yang sangat berkaitan keduanya bagaimana bisa kita bisa berdomisili di kantor kalau kita tidak punya ijazah formal sedangkan Abon melarang santri untuk kuliah karena dayah masih pendidikan non formal saat itu belum di akui oleh pemerintah.

Jadi dengan penuh rasa hormat Abu Mudi memberanikan diri untuk menanyakan langsung kepada Abon di kala itu tentang hal ini, lalu Abu MUDI bertanya kepada Abon ….

“Lon Abon na saboh hal yang hantrok pham lon keunan paken Abon larang santri untuk jak kuliah u Banda sedangkan Abon Tanjungan Abon izinkan duk bak Kanto KUA bahkan jeut mate Dayah yang baru geupeudep”….

Lalu Abon dengan semangat menjawab pertanyaan Abu MUDI yang tiba-tiba bertanya dengan hal demikian

“Gata peu tateupeu nyan nah ukeu……”ubena kanto beuna ureung tanyoe di dalam leubeh-leubeh lom yang membidangi masalah Agama.”
Dan saboh treuk paken Lon tham santri hanjeut jak kuliah uluwa Lon takot jeut keu wahabi dihh……

Jadi dari perkataan itulah Abu tercengang mendengarnya dan tidak seorang pun yang dapat menyaksikan tentang hal demikian yang ada hanyalah Abu bersama Abon dalam mobil, jadi dari situlah Abu Mudi baru paham betul apa maksud Abon tentang hal ini.

Padahal Abon punya firasat yang sangat kuat untuk kedepan dalam menghadapi perkembangan zaman maka Abu MUDI punya PR kusus dari Abon yang harus di selesaikan dan dikerjakan kedepan demi kemaslahatan UMAT karena itu amanah dari Abon.

Walaupun disampaikan tidak terang terangan maka dari kalimat Abon, Abu bisa memahaminya Abon menginginkan orang dayah yang mengelola pemerintahan karena orang Dayahlah sangat paham betul tentang agama dan ilmu mengelola pemerintahan.

Setelah Abon Aziz pulang ke rahmatullah kepangkuan Ilahi di saat itulah hasil rapat dari Alumni untuk melantik Abu Mudi sebagai pimpinan Dayah MUDI Samalanga.

Maka di saat itu Abu Mudi mulai memikirkan tentang ucapan Abon yang masih membekas dalam dadanya tentang kedepan harus ada orang kita dayah yang duduk di kantor, baik KUA, Mahkamah Syariah, Departemen Agama dan lain-lain, bagaimana bisa kita berdomisili di kantor sedangkan ijazah Sarjana gak punya kalau kita suruh ke Banda untuk kuliah di Banda saat itu akan menjadi wahabi karena banyak sekali Dosen-Dosen yang berasal lulusan Timur Tengah yang baru pulang ke Aceh dan mengajar di kampus sangat banyak pemahaman mereka yang sangat menentang dengan pemahaman Ahli Sunnah wal Jamaah.

Jadi timbulah inisiatif Abu MUDI untuk mendirikan Kampus dalam lingkungan Dayah MUDI. Maka dari sinilah timbul polemik yang cukup besar dalam masyarakat awam, santri, guru dan juga dalam kalangan Alumni pernah belajar pada masa Abon dulu yang duluan pulang yang tidak sempat mendengar pesan Abon yang satu ini, Maka banyak komentar-komentar yang tertuju ke Abu MUDI tentang rencana mendirikan kampus di MUDI bahkan ada Alumni dan Dewan Guru yang tidak sependapat dengan Abu bahkan kadang ada yang tidak mengizini muridnya untuk kuliah karena ada yang berinisiatif kuliah itu tidak penting yang penting ngaji, mungkin mereka belum mengerti apa maksud dari rencana Abu ini jadi Abu tetap sabar dan tabah selalu istiqomah kokoh pendiriannya dalam hal tersebut.

Bahkan Abu tidak pernah memaksa seorang santri pun untuk pergi kuliah ada sebagian kuliah ada sebagian yang tidak kuliah ada sebagian mendukung ada sebagian yang tidak, bagi yang ikut kuliah dengan kemauan sendiri dan sokongan orang tua. Maka kampus itu terus berjalan waktu terus bergulir komentar pun hilang sedikit demi sedikit pas wisuda STAI Al Aziziyah angkatan pertama yang melahirkan sarjanawan dan sarjanawati tidak terlalu banyak setelah itu di lanjut lagi gelombang kedua sedikit lebih banyak dan gelombang ketiga membludak sarjana yang berasal dari pesantren tapi itu suatu ke banggaan bagi Abu MUDI, Abu terseyum bahagia di saat rencananya sukses di situlah semua kantor sudah di banjiri oleh kalangan santri dan di saat itulah sudah mulai ada sebagian mimbar Mesjid yang khutbahnya harus memiliki S1 sekurang-kurangnya atau S2 bahkan Doktor di saat itulah semua tercengang apa yang di rencanakan Abu terjawab dengan sendirinya.

Maka di kalangan pemerintah sudah mulai tau kemampuan orang kalangan dayah maka banyak di gulir tawaran-tawaran bahkan sampai ada tawaran untuk menjadi polisi dan kantor departemen agama bahkan banyak hukum di kementrian agama yang sedikit keliru dengan syariat islam dapat di luruskan. Dan dengan berkat ini sekarang ijazah dayah yang dulu 7 thn ngaji baru bisa di terbitkan tidak formal lagi tpi sekarang 4 tahun kita belajar di dayah sudah bisa kita pegang ijazah formal setara dengan ijazah aliah atau SMA bahkan sudah di akui bisa melanjutkan kuliah dimana pun tetap di terima bahkan sekarang dayah sudah mempunyai Ma’had Aly ijazahnya setara dengan S1 jadi kedepan santri tidak perlu kuliah lagi.

Maka dari sinilah Abu terseyum bahagia beliau bisa mewujudkan cita-cita Abon dan pesannya kepada beliau maka sekarang kampus STAI sudah berubah menjadi IAI (Institut Agama Islam) sudah banyak mencetak sarjana dari kalangan santri bahkan ada yang melanjutkan Master S2 dan Doktor S3 bahkan Abu pernah mengatakan di depan Profesor-Profesor:

“Ukeu akan lahe, profesor dari ureung Dayah yang akan mengajar di kampus-kampus dan Universitas. Abu pernah mengatakan tujuan Abu peudeng sikula dalam Dayah untuk peusikula ureung beut, ken untuk peubeut ureung jak sikula.”

Maka tidak heran sekarang santri MUDI Sudah mulai berkarya menyusun buku-buku, majalah-majalah menulis berita-berita, mengelola website dan Sebagainya. Bahkan bahasanya sudah mulai bisa menandingi lulusan universitas-universitas, Insyaallah santri kedepan akan berjaya yang dulu di identik jadi santri tidak punya masa depan bahkan ada yang menyembunyikan identitasnya sebagai santri karena gensi menjadi santri tapi sekarang sudah mulai satu kebanggaan menjadi santri.

Abu pernah berkata kuliah itu bagaikan cet, sampul dan kemasan sedangkan ilme kana dalam dayah…. Lage contoh kueh cukop mangat tapi hana di kemas, orang kurang tertarik untuk membelinya coba lihat kue Ade Meureudu kiban ka lagot jinoe karena kana kemasan Indah maka bisa menarik perhatian orang untuk mencicipinya.

Banyak sekali tentang rencana atau ide-ide mulia Abu MUDI yang tidak pernah terbanyang tetapi terjawab sendiri lama berselang kemudian hari.
1. Kampus

2. Pakai cadar Dayah MUDI adalah dayah yang pertama di Aceh yang mewajibkan memakai cadar bagi santriwati tapi kita lihat sekarang sudah banyak dayah yang sudah mulai memakai cadar bahkan sudah diikuti oleh kalangan mahasiswi-mahasiwi dan kalangan masyarakat itu merupakan Dakwah Bilhal bisa mengalahkan pakaian yang tidak sopan dan tidak isllami banyak kita lihat orang yang memakai pakaian non Islami sudah mulai tersisih bahkan sudah ngetren yang muslimah2 sekarang.

3. Mendirikan Dayah Jamiah di atas Puncak gunung bate ilik bahkan banyak yang mengomentari pane na urg jak beut dalam uteun di ateuh glee tapi coba kita lihat sekarang apa yang terjadi yang dulu hutan sekarang sudah berdiri bangunan2 yang bertingkat2 dan di penuhi oleh santri-santri yang penuh dengan aktifitas setiap harinya.

4. Mendirikan TASTAFI (pengajian Tauhid Tasauf Fiqah) pertama abu memulainya tampa seorang pun yang tau abu sudah mulai berkampanye dan di tempel stiker yang terpasang poto Abu dan poto Abon yang tertulis TASTAFI di kaca mobilnya bagaikan orang yang mau naik calek bahkan banyak bertanya-tanya di kalangan santri dan dewan guru tatkala itu.

Pertama Abu memulai pengajian TASTAFI di belakang masjid raya baiturrahman hari pertama tidak banyak mungkin masyarakat belum mengetahui pas kali kedua penuh bahkan mulai padat maka terbentuklah pengurus lalu Abu di minta untuk mengisi pengajian di mesjid kebanggaan masyarakat aceh supaya majlisnya muat semua di saat itu masih di kuasai oleh wahabi Alhamdulillah sekarang sudah di tangan Ahli sunnah waljamaah sampai saat ini maka terbentuklah pengurus TASTAFI dari pusat provinsi sampai kota-kota, kabupaten, kecamatan dan kampung-kampung yang di isi pengajian tersebut oleh ulama seluruh Aceh. TASTAFI ini adalah sebagai Benteng aliran aliran sesat yang sudah berdatangan ke aceh maka dengan adanya pengajian ini masyarakat lebih dekat lagi dengan Ulama.
Mohon maaf atas kekurangan dan kesilapan penulis.

Semoga Abu selalu dalam lindungan Allah dan di beri panjang umur agar dapat membimbing kita semua masyarakat Aceh khususnya dan Indonesia umumnya. [Sumber: FB TASTAFI ACEH]

This site is using SEO Baclinks plugin created by Cocktail Family

Leave a Reply

Related Post

%d bloggers like this: