Dayah Darussalam Labuhan Haji “Kisah dari Waled Marhaban”

0 Comments 4:00 PM


Kutipan dari artikel yang diposting story Fanspage Dayah Babul Munawwarah Blang Pauh Sa, dikisahkan Dayah Darussalam Labuhan Haji.

♥╣[-[22/3 11.27]: Beberapa kisah dari Waled Marhaban semalam-]╠♥

Dayah Darussalam Labuhan Haji dibangun Abuya Mudawali dan para murid di atas rawa yang sangat dalam dan angker. Namanya Suwak Bunta. Pendirian dayah ini adalah dakwah lahir batin, dibutuhkan komitmen yang kuat untuk bisa bertahan di dayah. Dengan doa Abuya, di pinggir pantai muncul batu batu dan kerikil yang kemudian diangkut oleh para santri untuk menimbun rawa tadi.

Dengan izin Allah, perlahan rawa tersebut bisa ditimbun dan bisa didirikan bangunan. Yang pertama dibangun kala itu adalah rumah Ummi Manggeng, ibunda dari Abuya Nasir, hingga kemudian seluruh lokasi dayah bisa ditimbun dan didirikan bangunan. Untuk lauk makan, santri menanam rumpun dan mengail ikan di sisa rawa yang ada.

Hidup sangat sederhana, Hantu, jin dan syaitan yang mengganggu tidak hanya pada malam hari, tapi juga pada siang hari. Kemudian beberapa amalan yang dilakukan Abuya dan para santri sehingga gangguan itu menghilang adalah (1) khataman al-quran, (2) membaca yasin fadilah dan (3) raja shalawat, Yasin Fadhilah, kata Abon Buni perlu ambil tarikat secara bertahap, sementara raja shalawat bisa langsung diamalkan tanpa tarikat.

Abon Abdul Aziz berdagang ke Dayah Darussalam pada usia 17 tahun. Baru setahun di dayah beliau merasa tidak betah dan mau pulang saja, maka beliau minta izin kepada Abuya. Oleh Abuya, beliau diajak duduk dan ditidurkan di pangkuan Abuya seperti anak sendiri, kemudian dibacakan Hizbul Bahar dan diberikan nasehat. Demikian besar cinta Abuya Mudawali kepada Abon Aziz. Setelah itu jiwa Abon menjadi kuat dan mampu menyelesaikan belajarnya dengan Abuya.

Ketika Waled Marhaban berdagang di MUDI beliau juga sempat merasa bosan dan ingin pindah dayah, bahkan semua barang sudah dijual, tinggal pamit saja sama Abon. Ketika beliau mau izin, maka diajaklah ke kamar Abon, lalu Abon menceritakan pengalaman belajarnya dengan Abuya, sampai sampai Waled tertidur sambil mendengarkan cerita Abon, namun kemudian hati Waled menjadi teguh dan lebih giat lagi dalam belajar.

Ketika selesai, Abon berwasiat supaya Waled ta’dhim dan taslim kepada Abu Bakongan, bukan hanya sebagai anak kepada ayah, tapi juga sebagai murid kepada orang alim, supaya turun ilmu dan bermanfaat ilmunya. Waled tidak boleh sekali-kali berbeda pendapat dengan Abu, walaupun ada beda pendapat Abu dengan pendapat Abon. Abon sudah redha terhadap Waled. Demikian cinta Abon kepada waled. Cinta guru sangat penting, dan lebih penting lagi taslim murid kepada guru, tidak boleh ada pertentangan dengan guru baik lahir maupun batin. Inilah kunci futuh dan bermanfaatnya ilmu dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat bagi penulis dan kawan-kawan semua. Semoga semakin ikhlas mengikuti guru kita, dan semoga Allah memandang dengan kasih sayang Nya kepada kita, melalui perantara Nabi dan guru kita. Aaminn…

[22/3 11.27] Pada saat acara pembacaan Raja Selawat di Dayah Madani Aziziyah Lampeuneurut semalam, turut Hadir Waled Marhaban, Putra dari Abu Bakongan, juga murid dari Abon Abdul Aziz Samalanga.

Ada beberapa hal yang saya ingat dari tausiyah beliau.

Pertama, semboyan santri itu ada dua, ketika beliau masih belajar di dayah MUDI Samalanga, pada satu kesempatan, Abu Lueng Ie berkunjung ke sana dan dalam nasehatnya kepada para santri kala itu, beliau mengatakan bahwa semboyan santri dalam menuntut ilmu ada dua, yaitu alim atau meninggal dalam menuntut ilmu. Tidak ada kata mundur atau pulang kampung jika belum berhasil.

Yang kedua, syarat menjadi alim salah satunya adalah dengan mengulang pelajaran dan menghafal materinya. Itu syarat duniawi, tapi hakekat alim diperoleh karena futuh (anugrah dari Allah swt).

Ketiga, untuk memperoleh futuh, dibutuhkan cinta dan ridha guru, maka penting sekali murid ta’dhim dan taslim kepada guru.

Keempat, penting sekali menjaga kemurnian niat, khususnya dalam menuntut ilmu dan beramal shaleh. Niat yang baik akan hasil baik, niat yang buruk akan hasil buruk.

Kelima, para ulama terdahulu banyak berselawat, minimal 1000 kali sehari, bahkan bisa sampai 10 ribu. Amalan raja selawat ini sanadnya melalui Abu Bakongan dan Abuya Mudawali.

Wallahu a’lam…Copas alumniDDMgrubwa

This site is using SEO Baclinks plugin created by Cocktail Family

Leave a Reply

Related Post

%d bloggers like this: