Menyambut Bulan Ramadhan, Bahasan Fiqih Praktis Tentang Bab Puasa

0 Comments 7:31 AM


Ramadhan 1442 H / 2021 M


⏳ *Menyambut Bulan Ramadhan Kita Bahas Fiqih Praktis Tentang Bab Puasa.*

1. DEFINISI PUASA
Puasa menurut bahasa adalah menahan diri dari sesuatu baik dari makanan atau berbicara.
Menurut bahasa arab orang menahan diri untuk tidak berbicara juga disebut berpuasa.
Adapun puasa menurut agama adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya mulai dari terbitnya fajar shodiq (masuknya waktu subuh) hingga terbenamnya matahari (masuknya waktu maghrib).

2. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA
Jika kita perhatikan dari definisi puasa di situ disebutkan hal-hal yang membatalkan puasa.
Maka dari itu menjadi sesuatu yang amat penting dalam ilmu puasa adalah mengetahui hal-hal yang membatalkan puasa.

Hal-hal yang membatalkan puasa ada sembilan (9) yaitu :_
1. Memasukan sesuatu ke dalam salah satu lima (5) lubang, yaitu :
a. Mulut
Hukum memasukkan sesuatu ke lubang mulut adalah membatalkan puasa.

Untuk memudahkan pemahaman kita maka hukum memasukkan sesuatu ke lubang mulut ini ada (4) empat hukum yaitu :
1) Membatalkan : Yaitu di saat kita memasukkan sesuatu ke dalam mulut kita dan kita menelannya dengan sengaja saat kita sadar bahwa kita sedang puasa. Jadi yang menjadikannya batal adalah karena menelan dengan sengaja. Maka dari itu jika ada orang memasukkan permen atau es krim ke dalam mulutnya maka hal itu tidak membatalkan puasanya asalkan tidak ditelan.

Catatan masalah ludah :
Di dalam masalah ini ada hal yang perlu kita perhatikan yaitu masalah ludah. Ludah itu jika kita telan tidak membatalkan puasa kita dengan syarat :
• Ludah kita sendiri
• Tidak bercampur dengan sesuatu yang lainnya
• Ludah masih berada di tempatnya (mulut)
Maka di saat syarat – syarat di atas terpenuhi, maka jika ludah itu ditelan tidak membatalkan puasa. Bahkan jika seandainya ada orang yang mengumpulkan ludah di dalam mulutnya sendiri dan setelah terkumpul lalu ditelan maka hal itu tidak membatalkan puasa.

Akan tetapi menelan ludah akan membatalkan puasa jika salah satu syarat di atas ada yang tidak terpenuhi, seperti karena dia menelan ludahnya orang lain, atau menelan ludah yang sudah bercampur dengan sesuatu, seperti : permen, es krim atau makanan yang masih tersisa di dalam mulut kita atau menelan ludah yang sudah dikeluarkan dari mulutnya lalu diminum maka itu semua membatalkan puasa.

*Catatan :
Masalah sisa makanan di dalam mulut. Sisa makanan di mulut maka ada dua macam:
• Jika sisa makanan di mulut kemudian bercampur dengan ludah dengan sendirinya dan susah untuk dipisahkan maka jika ditelan tidak membatalkan puasa. Misalnya orang yang sahur lalu tidur dan tidak sempat kumur atau sikat gigi lalu menduga di dalam mulutnya ada sisa–sisa makanan. Maka jika sisa makanan tersebut sudah tidak bisa lagi dibedakan dengan ludah maka hal itu tidak membatalkan puasa jika ditelan.
• Jika ada sisa makanan yang bisa dipisahkan dari ludah lalu bercampur dengan ludah dan bercampurnya karena dikunyah dengan sengaja atau digerak-gerakkan agar bercampur kemudian ditelan, maka hal itu membatalkan puasa. Seperti sisa makanan dalam bentuk nasi atau biji-bijian yang bisa dibuang akan tetapi justru dikunyah lalu ditelan maka hal itu membatalkan puasa.


2) Makruh (dilarang akan tetapi tidak dosa jika dilanggar) :

Dihukumi makruh jika kita memasukan sesuatu ke dalam mu-lut tanpa kita telan
hanya untuk main-main saja.
Contohnya ketika ada seseorang yang sedang berpuasa kemudian dia dengan sengaja memasukkan permen atau es krim ke dalam mulutnya tanpa menelannya maka hukumnya makruh dan tidak membatalkan puasa dan jika tiba-tiba tanpa disengaja permen yang ada di mulutnya tertelan
maka batal, karena ia menelan dengan tidak sengaja yang disebabkan
sesuatu yang tidak dianjurkan yaitu telah bermain-main dengan memasukkan sesuatu ke dalam
mulutnya.

3) Mubah* (boleh dilakukan dan tidak dilarang) : Dihukumi mubah yaitu ketika seorang juru masak menci- cipi masakannya dengan niat untuk membenahi rasa. Maka di samping hal itu tidak membatalkan puasa hal yang demilkian itu juga bukan peker-
jaan yang makruh. Akan tetapi hal itu boleh-boleh saja. Dalam hal ini bukan hanya juru masak saja yang diperkenankan, akan tetapi juga
siapapun yang lagi memasak. Dengan
catatan tidak boleh ditelan.

4) Sunnah* (dianjurkan dan ada
pahalanya) : Dihukumi sunnah yaitu ketika kita berkumur-kumur di dalam berwudhu. Maka di saat itu di
samping tidak membatalkan puasa, berkumur dalam wudhu’ tetap disunnahkan biarpun dalam keadaan
puasa dengan catatan tidak boleh ditelan. Bahkan jika tertelan sekalipun
tanpa sengaja maka tidak membatalkan puasa. Dengan catatan ia berkumur-
kumur dengan cara yang wajar saja dan tidak berlebihan.

b. Hidung*
Memasukan sesuatu ke dalam lubang hidung membatalkan
puasa. Adapun batasan dalam hidung
adalah bagian yang jika kita memasukkan air akan terasa panas (tersengak) maka di situlah batas dalam yang jika kita memasukkan sesuatu ke tempat tersebut akan membatalkan puasa, yaitu hidung
bagian atas yang mendekati mata kita.

Adapun hidung di bagian bawah yang lubangnya biasa dijangkau jemari
saat membuang kotoran hidung, jika kita memasukkan sesuatu ke bagian
tersebut hal itu tidak membatalkan puasa asal tidak sampai ke bagian atas seperti yang telah kami jelaskan.

Disadur dari tulisan Buya Yahya, edisi lengkap ada di Telegram mmr_aceh
👇
https://t.me/mmr_aceh

💡Bismillah. Bagi yang masih bingung, silahkan ditanyakan. InsyaAllah Gure-gure kita di grup akan menjawabnya

*••┈┈┈◎❅❀❦♥❦❀❅◎┈┈┈••*

*_Majelis Mahabbah Rasulullah_*

This site is using SEO Baclinks plugin created by Cocktail Family

Leave a Reply

Related Post

%d bloggers like this: