Lengkap!. Menyambut Bulan Ramadhan, Bahasan Fiqih Praktis Tentang Bab Puasa

0 Comments 5:00 PM


Istimewa

⏳ *Menyambut Bulan Ramadhan Kita Bahas Fiqih Praktis Tentang Bab Puasa.*

*🟫Edisi 1🟫*

*1. DEFINISI PUASA*
Puasa menurut bahasa adalah menahan diri dari sesuatu baik dari makanan atau berbicara.
Menurut bahasa arab orang menahan diri untuk tidak berbicara juga disebut berpuasa.
Adapun puasa menurut agama adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya mulai dari terbitnya fajar shodiq (masuknya waktu subuh) hingga terbenamnya matahari (masuknya waktu maghrib).

*2. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA*
Jika kita perhatikan dari definisi puasa di situ disebutkan hal-hal yang membatalkan puasa.
Maka dari itu menjadi sesuatu yang amat penting dalam ilmu puasa adalah mengetahui hal-hal yang membatalkan puasa.

*_Hal-hal yang membatalkan puasa ada sembilan (9) yaitu :_*
1. Memasukan sesuatu ke dalam salah satu lima (5) lubang, yaitu :
*a. Mulut*
Hukum memasukkan sesuatu ke lubang mulut adalah membatalkan puasa.

Untuk memudahkan pemahaman kita maka hukum memasukkan sesuatu ke lubang mulut ini ada (4) empat hukum yaitu :
1) Membatalkan : Yaitu di saat kita memasukkan sesuatu ke dalam mulut kita dan kita menelannya dengan sengaja saat kita sadar bahwa kita sedang puasa. Jadi yang menjadikannya batal adalah karena menelan dengan sengaja. Maka dari itu jika ada orang memasukkan permen atau es krim ke dalam mulutnya maka hal itu tidak membatalkan puasanya asalkan tidak ditelan.

*Catatan masalah ludah :*
Di dalam masalah ini ada hal yang perlu kita perhatikan yaitu masalah ludah. Ludah itu jika kita telan tidak membatalkan puasa kita dengan syarat :
• Ludah kita sendiri
• Tidak bercampur dengan sesuatu yang lainnya
• Ludah masih berada di tempatnya (mulut)
Maka di saat syarat – syarat di atas terpenuhi, maka jika ludah itu ditelan tidak membatalkan puasa. Bahkan jika seandainya ada orang yang mengumpulkan ludah di dalam mulutnya sendiri dan setelah terkumpul lalu ditelan maka hal itu tidak membatalkan puasa.

Akan tetapi menelan ludah akan membatalkan puasa jika salah satu syarat di atas ada yang tidak terpenuhi, seperti karena dia menelan ludahnya orang lain, atau menelan ludah yang sudah
bercampur dengan sesuatu, seperti : permen, es krim atau makanan yang masih tersisa di dalam mulut kita atau menelan ludah yang sudah dikeluarkan dari mulutnya lalu diminum maka itu semua membatalkan puasa.

*Catatan :*
Masalah sisa makanan di dalam
mulut. Sisa makanan di mulut maka
ada dua macam:
• Jika sisa makanan di mulut kemudian bercampur dengan ludah dengan sendirinya dan susah untuk dipisahkan maka jika ditelan tidak membatalkan puasa. Misalnya orang yang sahur lalu tidur dan tidak sempat kumur atau sikat gigi lalu menduga di dalam mulutnya ada sisa–sisa makanan. Maka jika sisa makanan tersebut sudah tidak bisa lagi dibedakan dengan ludah maka hal itu tidak membatalkan puasa jika ditelan.
• Jika ada sisa makanan yang bisa dipisahkan dari ludah lalu bercampur dengan ludah dan bercampurnya karena dikunyah dengan sengaja atau digerak-gerakkan agar bercampur kemudian ditelan, maka hal itu membatalkan puasa. Seperti sisa makanan dalam bentuk nasi atau biji-bijian yang bisa dibuang akan tetapi justru dikunyah lalu ditelan maka hal itu membatalkan puasa.

*••┈┈┈◎❅❀❦♥❦❀❅◎┈┈┈••*

⏳ *Menyambut Bulan Ramadhan Kita Bahas Fiqih Praktis Tentang Bab Puasa*

⬜ *Edisi 2*⬜

*2) Makruh* (dilarang akan tetapi tidak dosa jika dilanggar) :

Dihukumi makruh jika kita memasukan
sesuatu ke dalam mu-lut tanpa kita telan
hanya untuk main-main saja.
Contohnya ketika ada seseorang
yang sedang berpuasa kemudian dia dengan sengaja memasukkan permen atau es krim ke dalam mulutnya tanpa menelannya maka hukumnya makruh dan tidak membatalkan puasa dan jika tiba-tiba tanpa disengaja permen yang ada di mulutnya tertelan
maka batal, karena ia menelan dengan tidak sengaja yang disebabkan
sesuatu yang tidak dianjurkan yaitu telah bermain-main dengan memasukkan sesuatu ke dalam
mulutnya.

*3) Mubah* (boleh dilakukan dan tidak
dilarang) : Dihukumi mubah yaitu ketika seorang juru masak menci- cipi masakannya dengan niat untuk membenahi rasa. Maka di samping hal itu tidak membatalkan puasa hal yang demilkian itu juga bukan peker-
jaan yang makruh. Akan tetapi hal
itu boleh-boleh saja. Dalam hal ini bukan hanya juru masak saja yang diperkenankan, akan tetapi juga
siapapun yang lagi memasak. Dengan
catatan tidak boleh ditelan.

*4) Sunnah* (dianjurkan dan ada
pahalanya) : Dihukumi sunnah yaitu ketika kita berkumur-kumur di dalam berwudhu. Maka di saat itu di
samping tidak membatalkan puasa,
berkumur dalam wudhu’ tetap disunnahkan biarpun dalam keadaan
puasa dengan catatan tidak boleh
ditelan. Bahkan jika tertelan sekalipun
tanpa sengaja maka tidak membatalkan
puasa. Dengan catatan ia berkumur-
kumur dengan cara yang wajar saja
dan tidak berlebihan.

*b. Hidung*
Memasukan sesuatu ke dalam lubang hidung membatalkan
puasa. Adapun batasan dalam hidung
adalah bagian yang jika kita memasukkan air akan terasa panas (tersengak) maka di situlah batas dalam yang jika kita memasukkan
sesuatu ke tempat tersebut akan
membatalkan puasa, yaitu hidung
bagian atas yang mendekati mata kita.

Adapun hidung di bagian bawah yang
lubangnya biasa dijangkau jemari
saat membuang kotoran hidung, jika
kita memasukkan sesuatu ke bagian
tersebut hal itu tidak membatalkan
puasa asal tidak sampai ke bagian atas seperti yang telah kami jelaskan.

*••┈┈┈◎❅❀❦♥❦❀❅◎┈┈┈••*

*⏳Menyambut Bulan Ramadhan Kita Bahas Fiqih praktis tentang Bab Puasa.*

*⬛Edisi 3*⬛

*c. Telinga*
Menjadi batal jika kita memasukan sesuatu ke dalam telinga kita. Yang dimaksud dalam telinga adalah bagian dalam telinga yang tidak bisa dijangkau oleh jari kelingking kita saat kita membersih kan telinga. Jadi memasukkan sesuatu ke bagian yang masih bisa dijangkau oleh jari kelingking kita hal itu tidak membatalkan puasa baik yang kita
masukkan itu adalah jari tangan kita atau yang lainya.

Akan tetapi kalau kita memasukkan sesuatu melebihi dari bagian yang dijangkau jemari kita seperti korek kuping atau air, maka
hal itu akan membatalkan puasa. Ini adalah pendapat kebanyakan para
ulama.

Dan ada pendapat yang berbeda yaitu pendapat yang diambil oleh *Imam Malik dan Imam Ghozali dari madzhab Syafi’i* bahwa
“Memasukan sesuatu ke dalam telinga tidak membatalkan”. Akan tetapi lebih baik dan lebih aman jika tetap mengikuti pendapat kebanya-
kan para ulama yaitu pendapat yang mengatakan memasukkan sesuatu ke lubang telinga adalah membatalkan
puasa.

*d. Jalan depan* (alat buang air kecil)
Memasukan sesuatu ke dalam lubang kemaluan adalah
membatalkan puasa walaupun itu adalah sesuatu yang darurot, seperti dalam pengobatan dengan memasukkan obat ke lubang
kemaluan atau pipa untuk mengeluarkan cairan dari dalam
bagi orang yang sakit.

Termasuk memasukan jemari bagi seorang wanita
adalah membatalkan puasa. Maka dari itu para wanita yang bersuci dari bekas buang air kecil harus hati-hati jangan
sampai saat membersihkan sisa buang air kencing (beristinja) melakukan sesuatu yang membatalkan puasa.

Bagi wanita yang ingin beristinja hendaknya hanya
membasuh bagian yang terbuka di
saat ia jongkok saja dengan perut jemari dan tidak perlu memasukan
jemari ke bagian yang lebih dalam, karena hal itu akan membatalkan
puasa. Lebih dari itu ditinjau dari sisi kesehatan justru tidak sehat kalau cara membersihkan kemaluan adalah dengan cara membersihkan
bagian yang tidak terlihat di saat
jongkok sebab yang demikian itu justru akan membuka kemaluan untuk
kemasukan kotoran dari luar.

*e. Jalan Belakang* (alat buang air besar)
Memasukkan sesuatu ke lubang belakang sama hukumnya
seperti memasukkan sesuatu ke jalan depan. Artinya jika ada orang memasukkan sesuatu ke lubang belakang biarpun dalam keadaan darurat seperti dalam pengobatan adalah membatalkan puasa, termasuk memasukkan jemari saat istinja
(bersuci dari bekas buang air besar).

Maka cara yang benar dalam istinja adalah cukup dengan membersihkan
bagian alat buang air besar dengan perut jemari tanpa harus memasuk- kan jemari kebagian dalam.

*••┈┈┈◎❅❀❦♥❦❀❅◎┈┈┈••*

*⏳Menyambut Bulan Ramadhan Kita Bahas Fiqih Praktis Tentang Bab Puasa.*

*🟪Edisi 4🟪*

*2. Muntah dengan sengaja*
Muntah dengan sengaja akan memba-talkan puasa baik dilakukan dengan wajar atau tidak, baik dalam keadaan darurat atau tidak.

Seperti dengan sengaja mencari bau yang busuk lalu diciumi hingga muntah atau memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya agar bisa muntah.
Berbeda jika muntah yang terjadi karena tidak disengaja maka hal itu tidak membatalkan puasa kita, dengan syarat :

• Kita tidak boleh menelan ludah yang
ada di mulut kita sehabis muntah
sebelum kita mensucikan mulut kita terlebih dahulu dengan cara berkumur dengan air suci. Jika di saat kita belum berkumur kemudian kita langsung menelan ludah kita maka puasa kita menjadi batal sebab muntahan ada- lah najis dan mulut kita telah menjadi najis karena muntahan, sehingga ludah kita telah bercampur dengan najis yang jika ditelan akan mem- batalkan puasa karena yang ditelan
bukan lagi ludah yang murni akan tetapi ludah yang najis.

Jika ada orang menggosok gigi kemudian dia itu biasanya tidak muntah maka di saat dia gosok gigi tiba-tiba muntah maka tidak batal, akan tetapi jika dia tahu kalau biasanya setiap menggosok gigi akan muntah maka hukum menggosok gigi yang semula tidak haram menjadi
haram dan jika ternyata benar-benar muntah maka puasanya menjadi
batal.

Jika ada orang yang
kemasukan lalat sampai melewati
tenggorokannya kemudian dia berusaha untuk menge-luarkannya
maka menjadi batal karena sama saja seperti muntah yang disengaja.

Berbeda dengan dahak, jika seseorang berdahak maka hal itu dima’afkan dan tidak membatalkan puasa akan tetapi dahak yang sudah keluar
melewati tenggorokan tidak boleh ditelan dan itu membatalkan
puasa. *Batas tenggorokan adalah tempat keluarnya huruf “HA”* ( makhraj huruf ” ح”)*.

*3. Bersenggama*
Melakukan hubungan suami istri itu membatalkan puasa. Yang dimaksud bersenggama adalah jika seorang suami telah memasukkan
semua bagian kepala kemaluannya ke lubang kemaluan sang istri dengan
sengaja dan sadar kalau dirinya sedang berpuasa maka saat itu puasanya menjadi batal (dalam hal
ini sama hubungan yang halal atau
yang haram seperti zina atau melalui
lubang dubur atau dengan binatang).

Adapun bagi sang istri biarpun yang masuk belum semua bagian kepala kemaluan sang suami asal sudah ada yang masuk dan melewati batas yang terbuka saat jongkok maka saat itu puasa sang istri sudah batal.

*Dan batalnya BUKAN karena bersenggama tapi masuk dalam* *pembahasan batal karena masuknya sesuatu ke lubang kemaluan*.

Bagi suami yang membatalkan puasanya dengan bersenggama
dengan istrinya dosanya amat besar
dan dia *harus membayar kafarat dengan syarat berikut ini*:

a. Dilakukan oleh orang yang wajib
baginya berpuasa
b. Dilakukan di siang bulan puasa
c. Dia ingat kalau dia sedang puasa
d. Tidak karena paksaan
e. Mengetahui keharomannya atau
dia adalah bukan orang yang bodoh
f. Berbuka karena bersenggama Dan bagi orang tersebut
dikenai hukuman:
1. Mengqodho puasanya
2. Membayar kafarat (denda)
Kafarat (denda) berseng- gama di siang hari bulan ramadhan adalah:
A. Memerdekakan
budak
B. Puasa selama dua
bulan berturut-
turut
C. Memberikan makan kepada 60
faqir miskin dengan syarat makanan
yang bisa digunakan untuk zakat fitrah.

Denda yang harus dibayar salah satu saja dengan berurutan. Jika
tidak mampu bayar A maka bayar B,
jika tidak mampu maka bayar C.

*••┈┈┈◎❅❀❦♥❦❀❅◎┈┈┈••*

*⏳Menyambut Bulan Ramadhan Kita Bahas Fiqih Praktis Tentang Bab Puasa.*

*🟦Edisi 5🟦*

*4. Keluar Mani* Dengan Sengaja
Maksudnya adalah
mengeluarkan mani dengan sengaja
dengan mencari sebab keluarnya mani.
Contohnnya : ketika ada orang yang tahu bahwa jika dia mencium istrinya atau dia dengan sengaja menyentuh kemaluannya dengan tangannya sendiri atau dengan
tangan istrinya bakal keluar mani maka puasanya menjadi batal karena keluar mani tersebut dengan sengaja.

Akan tetapi tidak
menjadi batal jika seandainya keluar
mani tanpa disengaja seperti bermimpi bersenggama dan di saat terbangun benar-benar menemukan air mani di celananya maka yang seperti itu tidak membatalkan puasa.

*5. Hilang Akal*

*Hilang akal dibagi menjadi 3*
( tiga ) bagian yaitu :
*a. Gila* : Sengaja atau tidak disengaja
gila itu membatalkan puasa walaupun sebentar.
*b. Mabuk dan Pingsan* :
• Jika disengaja maka mabuk dan
pingsan membatalkan puasa biarpun sebentar. Seperti dengan sengaja
mencium sesuatu yang ia tahu kalau
ia menciumnya pasti mabuk atau pingsan.
• Jika mabuk dan pingsannya adalah
tidak disengaja maka akan membatalkan puasa jika terjadi
seharian penuh.

Tetapi jika dia masih
merasakan sadar walau hanya sebentar di siang hari maka puasanya tidak batal. Misal mabuk kendaraan atau mencium sesuatu yang ternyata menjadikannya mabuk atau pingsan
sementara ia tidak tahu kalau hal itu
akan memabukkan atau menjadikan-
nya pingsan. Maka orang tersebut tetap sah puasanya asalkan sempat tersadar di siang hari walaupun
sebentar.
*c. Tidur* : Tidak membatalkan puasa
walaupun terjadi seharian penuh.

*6. Haid*
Membatalkan puasa walau- pun hanya sebentar sebelum waktu berbuka. Misal haid datang 2 menit
sebelum masuk waktu maghrib, maka puasanya menjadi batal akan tetapi pahala berpuasanya tetap utuh.

*••┈┈┈◎❅❀❦♥❦❀❅◎┈┈┈••*

⏳ *Menyambut Bulan Ramadhan Kita Bahas Fiqih Praktis Tentang Bab Puasa.*

*🟧Edisi 6*🟧

*7. Melahirkan*
Melahirkan adalah
membatalkan puasa, baik itu mengeluarkan bayi atau mengeluarkan bakal bayi yang biasa
disebut dengan keguguran. Misal,
seorang ibu hamil sedang berpuasa
tiba-tiba melahirkan di siang hari saat berpuasa, maka puasanya menjadi
batal.

*8. Nifas*
Nifas juga membatalkan
puasa. Misalnya ada orang melahirkan
ternyata setelah melahirkan tidak
langsung keluar darah nifas. Karena
ia mengira tidak ada nifas akhirnya ia berpuasa dan ternyata di saat ia lagi puasa darah nifasnya datang maka saat itu puasanya batal.

*9. Murtad*
Murtad atau keluar dari Islam membatalkan puasa. Misalnya,
ada orang sedang berpuasa tiba-tiba
ia berkata bahwa ia tidak percaya kalau Nabi Muhammad SAW adalah Nabi atau ada orang sedang berpuasa
tiba-tiba menyembah berhala maka puasanya menjadi batal.

*Hal yg membatalkan puasa sudah habis. Selanjutnya akan kita akan masuki dalam hal2 yg membolehkan buka puasa*.

*••┈┈┈◎❅❀❦♥❦❀❅◎┈┈┈••*

*⏳Menyambut Bulan Ramadhan Kita Bahas Fiqih Praktis Tentang Bab Puasa.*

*🟩Edisi 7*🟩

*3. ORANG-ORANG YANG BOLEH UNTUK TIDAK BERPUASA*

1. Anak kecil
Maksudnya adalah anak yang belum baligh. *Baligh ada 3 tanda yaitu* :

*a. Keluar mani* (bagi anak laki-laki dan
perempuan) pada usia 9 tahun hijriah.

*b. Keluar haid usia 9 tahun hijriah* (bagi anak perempuan)

*c. Jika tidak keluar mani dan tidak haid maka ditunggu hingga umur 15 tahun*.

Dan jika sudah genap 15 tahun maka ia telah baligh dengan usia, yaitu usia 15 tahun.

*2. Gila*
Orang gila tidak wajib berpuasa bahkan seandainya
berpuasa maka puasanya pun tidak
sah. Namun dalam hal ini ulama membagi ada 2 (dua) macam orang
gila yaitu :

*a. Orang gila yang disengaja*
Orang gila yang disengaja jika berpuasa maka puasanya tidak
sah dan wajib mengqodho’. Sebab
sebenarnya ia wajib berpuasa kemudian ia telah dengan sengaja membuat dirinya gila maka
karena kesengajaan inilah ia wajib mengqodho’ puasanya setelah sehat akalnya.

*b. Orang gila yang tidak disengaja*
Orang gila yang tidak disengaja tidak wajib berpuasa bahkan seandainya berpuasa maka puasanya tidak sah dan jika sudah
sembuh dia tidak berkewajiban mengqodho’ karena gilanya bukan disengaja.

*3. Sakit*
Orang sakit boleh
meninggalkan puasa. Akan tetapi di sini ada ketentuan bagi orang sakit tersebut yaitu :
Sakit parah yang memberatkan
untuk berpuasa yang berakibat semakin
parahnya penyakit atau lambat kesembuhannya. Dan yang bisa menentukan ini adalah :

a. Dokter muslim yang
terpercaya.
b. Berdasarakan
pengalamannya
sendiri.
*Catatan* :
Dalam hal ini tidak terbatas kepada orang sakit saja, akan tetapi siapapun yang sedang berpuasa lalu menemukan dirinya lemah dan tidak mampu untuk berpuasa dengan
kondisi yang membahayakan terhadap dirinya maka saat itu pun dia boleh membatalkan puasanya. Akan tetapi ia hanya boleh makan dan minum seperlunya kemudian wajib menahan diri dari makan dan minum seperti layaknya orang berpuasa. Akan
tetapi ini khusus untuk orang seperti ini (bukan orang sakit).

*••┈┈┈◎❅❀❦♥❦❀❅◎┈┈┈••*

*⏳Menyambut Bulan Ramadhan Kita Bahas Fiqih Praktis Tentang Bab Puasa.*

*🟨Edisi 8🟨*

*4. Orang tua*
Orang tua (lanjut usia) yang berat untuk melakukan puasa diperkenankan untuk meninggalkan
puasa.

*5. Bepergian (musafir)*
Semua orang yang bepergian boleh meninggalkan puasa dengan ketentuan sebagai berikut ini :
a. Tempat yang dituju dari tempat
tinggalnya tidak kurang dari 84 km.
b. Di pagi (saat subuh) hari yang ia
ingin tidak berpuasa ia harus sudah berada di perjalanan dan keluar dari wilayah tempat tinggalnya (minimal batas kecamatan).

Misal: Seseorang tinggal di Cirebon ingin pergi ke Semarang.
Jarak antara Cirebon – Semarang adalah 200 km (tidak kurang
dari 84 km). Ia meninggalkan Cirebon jam 2 malam (Sabtu dini hari). Subuh hari itu adalah jam 4 pagi.
Pada jam 4 pagi (saat subuh) ia sudah keluar dari Cirebon dan masuk Brebes. Maka di pagi hari Sabtunya ia sudah boleh meninggalkan puasa.

Berbeda jika berangkatnya
ke Semarang setelah masuk waktu subuh, Sabtu pagi setelah masuk waktu subuh masih di Cirebon.
Maka di pagi hari itu ia tidak boleh meninggalkan puasa karena sudah masuk subuh ia masih ada di rumah.Tetapi ia boleh meninggalkan puasa
di hari Ahadnya, karena di subuh hari
Ahad ia berada di luar wilayahnya.

*Catatan* :
Seseorang dalam bepergian akan dihukumi mukim (bukan musafir
lagi) jika ia niattinggal di suatu tem- pat lebih dari 4 hari.
Misal orang yang
pergi ke Semarang tersebut dalam contoh saat di Tegalia sudah boleh berbuka dan setelah sampai di Semarang juga tetap boleh berbuka
asalkan ia tidak bermaksud tinggal di
Semarang lebih dari 4 hari.Dan jika ia berniat tinggal di Semarang lebih dari 4 hari maka semenjak ia sampai Semarang ia
sudah disebut mukim dan tidak boleh meninggalkan puasa dan juga tidak boleh mengqosor Shalat.
Untuk dihukumi mukim tidak harus menunggu 4 hari seperti kesalah-pahaman yang terjadi pada sebagian orang, akan tetapi kapan
ia sampai tempat tujuan yang ia niat akan tinggal lebih dari 4 hari ia sudah disebut mukim.

*6. Hamil*
Orang hamil yang khawatir
akan kondisi :
a. Dirinya, atau
b. Janin (bayinya).

*7. Menyusui*
Orang menyusui yang khawatir akan kondisi :
a. Dirinya atau
b. Kondisi bayi yang masih di bawah
umur 2 tahun hijriyah.

Bayi di sini tidak harus bayinya sendiri akan tetapi bisa juga bayi orang lain.

*••┈┈┈◎❅❀❦♥❦❀❅◎┈┈┈••*

*⏳Menyambut Bulan Ramadhan Kita Bahas Fiqih Praktis Tentang Bab Puasa.*

*🟥Edisi 9🟥*

*8. Haid*
Wanita yang sedang haid tidak wajib berpuasa, bahkan jika berpuasa puasanya pun tidak sah bahkan haram hukumnya.

*9. Nifas*
Wanita yang sedang nifas tidak wajib berpuasa, bahkan jika berpuasa puasanya pun tidak sah bahkan haram hukumnya.

*4. ORANG YANG WAJIB MENGQODHO ATAU MEMBAYAR FIDYAH DARI ORANG YANG BOLEH MENINGGALKAN PUASA*

*1. Anak kecil*
Anak kecil jika sudah baligh maka ia tidak wajib mengqodho dan tidak wajib membayar fidyah atas puasa yang ditinggalkannya.

*2. Orang Gila*
a. Gila yang *disengaja* wajib mengqodho’ saja dan tidak
wajib membayar fidyah.
b. Gila yang *tidak disengaja* tidak
wajib mengqodho dan tidak wajib
membayar fidyah

*3. Orang sakit*
a. Sakit yang masih ada harapan sembuh wajib mengqodho’ jika sembuh dan tidak wajib membayar fidyah.
*b. Sakit yang menurut keterangan
dokter sudah tidak ada harapan sembuh maka ia tidak wajib
mengqodho, akan tetapi hanya wajib membayar fidyah setiap hari yang ia
tinggalkan dengan makanan (seperti :
beras) sebanyak 1 mud (yaitu 6,7 ons)
diberikan kepada fakir miskin.

*4. Orang tua*
Orang tua disamakan dengan orang sait yang tidak diharapkan kesembuhannya. Karena orang tua tidak akan kembali
muda. Maka baginya tidak wajib mengqodho’ dan hanya wajib membayar fidyah 1 mud (yaitu 6,7 ons) diberikan kepada fakir miskin.

*5. Orang musafir*
Orang yang bepergian hanya wajib mengqodho saja dan tidak wajib membayar fidyah.

*6. dan 7. Wanita hamil dan menyusui*

*Wanita hamil dan menyusui ada 3 (tiga) macam* :
a. Wajib mengqodho’ saja jika dia
khawatir akan dirinya sendiri
b. Wajib mengqodho’ saja jika
dia khawatir akan dirinya sendiri
sekaligus khawatir keadaan anaknya
c. Wajib mengqodho’ dan membayar
fidyah jika dia khawatir akan
keselamatan bayinya dan tidak
khawatir akan dirinya sendiri.

*8. Wanita Haid*
Wanita haid hanya wajib mengqodho dan tidak wajib membayar fidyah.

*9. Wanita Nifas*
Wanita Nifas hanya wajib mengqodho dan tidak wajib membayar fidyah.

*••┈┈┈◎❅❀❦♥❦❀❅◎┈┈┈••*

⏳Menyambut Bulan Ramadhan Kita Bahas Fiqih Praktis Tentang Bab Puasa.

🟫Edisi 10🟫

❖ Orang Yang Wajib Berpuasa
Dari keterangan di atas bisa disimpulkan bahwa selain orang yang boleh meninggalkan puasa maka mereka adalah orang-orang yang wajib berpuasa.

4. NIAT DI DALAM PUASA

a. Yang Wajib Dihadirkan Di Dalam
Niat
Yang wajib dihadirkan di dalam niat adalah :

  1. Untuk puasa wajib :
    a. Bermaksud berpuasa
    b. Meyakini kefardhuannya
    (bahwa puasa yang akan dilakukan adalah wajib).
    c. Menentukan jenis puasanya Ini semua cukup dilintaskan di dalam hati saja dan jika diucapkan dengan lidahnya asal hatinya tetap ingat akan niat tersebut maka puasanya juga sah bahkan sebagian
    ulama menganjurkan untuk diucapkan dengan lidahnya dengan bahasa apapun untuk membantu hati
    mengingat niat tersebut.
    Contoh : “Aku berniat puasa Fadhu
    Ramadhan”Aku Berniat Puasa = Bermaksud Puasa
    Fardhu = Meyakini kefardhuannya Ramadhan = Menentukan jenis
    puasanya.
  2. Untuk puasa sunnah:
    A. Sunnah rowatib atau puasa sunnah yang sudah ditentukan waktunya seperti puasa 6 syawal atau puasa senin dan kamis.
    Cara niatnya adalah:
    a. Bermaksud berpuasa
    b. Menyebut puasa yang akan
    dilakukan
    Contoh : “Aku niat Puasa hari Kamis”

Hari Kamis = Menentukan jenis puasa
sunnahnya

B. Puasa Sunnah Mutlaqoh atau
puasa sunnah di selain hari-hari yang
telah ditentukan. Cara niatnya adalah
cukup bermaksud untuk berpuasa
Contoh :
“Aku Niat Puasa”
Catatan :
Di dalam berniat tidak harus menggunakan bahasa Arab, akan
tetapi dengan bahasa apapun niatnya maka puasa tetap sah.

b. Waktu Niat
Waktu niat di dalam berpuasa ada dua macam :

  1. Puasa Fardhu
    Untuk puasa fardhu
    (wajib) maka niatnya harus dilakukan
    sebelum terbit fajar shodiq (fajar
    yang sesungguhnya) atau sebelum
    masuwaktu Subuh.
    Catatan:
    Semua niat dalam ibadah adalah
    dilakukan di awal memulai pekerjaan
    ibadahnya kecuali puasa yang cara
    niatnya adalah bisa di malam hari jauh-jauh sebelum fajar shodiq terbit.

••┈┈┈◎❅❀❦♥❦❀❅◎┈┈┈••

*⏳Menyambut Bulan Ramadhan Kita Bahas Fiqih praktis tentang Bab Puasa.*

*⬜Edisi 11⬜*

*2. Puasa Sunnah*
Untuk puasa sunah tidak diharuskan niat pada malam harinya
akan tetapi boleh berniat di pagi hari
dengan 2 syarat:
1. Belum tergelincir matahari
2. Belum melakukan sesuatu yang
membatalkan puasa yang tersebut di atas seperti makan atau minum.
*SEKILAS PERBEDAAN ULAMA DALAM NIAT*
*a. Mazhab Syafi’i* :
Satu kali niat untuk satu kali puasa artinya niat puasa harus dilakukan setiap malam.

*b. Mazhab Malik*:
Bolehmenggabungkan niat di awal puasa selama satu bulan penuh dengan syarat dalam sebulan itu tidak terputus dengan batalnya puasa,
jika sempat terputus dengan tidak berpuasa maka ia harus memulai dengan niat yang baru lagi seperti terputusnya karena haid.
*c. Mazhab Abu Hanifah*:
Tidak ada perbedaan dalam puasa wajib atau sunnah bahwa
menginapkan niat di malam hari tidak wajib menurut Imam Abu Hanifah.
Jika berniat setelah terbitnya matahari
tetap sah, asalkan matahari belum
tergelincir (masuk waktu dzuhur)
dan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
*3. Puasa Qodho*.
Bagi yang punya hutang puasa cara mengqodhonya adalah dengan melakukan puasa di hari-hari yang diperkenankan puasa di sepanjang satu tahun setelah ramadhan, yaitu selain :
1. Hari raya Idul Fitri
2. Hari raya Idul Adha
3. Hari Tasyrik (11,12,13 Dzulhijjah)
Cara niat puasa qodho’ sama dengan cara niat puasa ramadhan.
Adapun menambah kalimat qodho’ itu tidak harus akan tetapi sekedar dianjurkan.
Jika mengqodho’ puasa ramadhan bertepatan dengan hari-hari disunnahkan puasa sunnah, maka cukup niat puasa qodho yang wajib saja tanpa harus dibarengi dengan niat puasa sunnahnya. Dan orang tersebut sudah mendapatkan
pahala puasa wajib dan puasa sunnah
sekaligus biarpun tanpa diniatkan
puasa sunnah. Wallahu A’lam Bish-Showab.

*_Tamat*

Disadur dari tulisan Buya Yahya, edisi lengkap ada di Telegram mmr_aceh
👇
https://t.me/mmr_aceh

💡Bismillah. Bagi yang masih bingung, silahkan ditanyakan. InsyaAllah Gure-gure kita di grup akan menjawabnya

*••┈┈┈◎❅❀❦♥❦❀❅◎┈┈┈••*

*_Majelis Mahabbah Rasulullah_*

This site is using SEO Baclinks plugin created by Cocktail Family

Leave a Reply

Related Post

Hikmah SahurHikmah Sahur



HIKMAH SAHUR Banyak yang bisa dilakukan untuk mendapatkan keberkahan, salah satunya (mumpung di bulan Ramadhan) dengan makan sahur. Sebab, Rasulullah ﷺ bersabda: تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً “Makan sahurlah kalian

%d bloggers like this: