Waktu Tidur yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan

0 Comments 8:45 AM


Ilustrasi orang tidur

๐ŸƒWaktu Tidur yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan

Tidur adalah salah satu aktivitas istirahat yang dilakukan oleh manusia di setiap harinya. Dengan porsi tidur yang cukup, seseorang dapat menjalankan aktivitas kesehariannya secara maksimal. Dalam Al-Qurโ€™an dijelaskan:

ูˆูŽู…ูู†ู’ ุขูŠูŽุงุชูู‡ู ู…ูŽู†ูŽุงู…ููƒูู…ู’ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ูˆูŽุงุจู’ุชูุบูŽุงุคููƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ููŽุถู’ู„ูู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูŽุขูŠูŽุงุชู ู„ูู‚ูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนููˆู†ูŽ

โ€œDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkanโ€ (QS Ar-Rum: 23).

Porsi tidur yang ideal bagi manusia dalam sehari semalam adalah kisaran enam sampai delapan jam, dengan menyertakan tidur qailulah (tidur sebentar) di siang hari. (Jalaluddin as-Suyuthi, Ar-Rahmah fi at-Thib wa al-Hikmah, hal. 20)

Meski demikian, ada waktu-waktu tertentu yang tidak dianjurkan bagi seseorang untuk tidur.

Pertama, tidur setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari. Tidur di waktu ini dipandang akan menjadikan orang yang melakukannya terhalangi mendapatkan berkahnya rezeki dan umur.

Sebab waktu-waktu tersebut merupakan waktu diturunkannya keberkahan rezeki pada seseorang. Hal ini seperti dijelaskan oleh Habib Zain bin Smith:

ุงู„ู†ูˆู… ุจุนุฏ ุงู„ุตุจุญ ูŠุฐู‡ุจ ุจุฑูƒุฉ ุงู„ุฑุฒู‚ ูˆุงู„ุนู…ุฑ ู„ุฃู† ุจุฑูƒุฉ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู…ุฉ ูู‰ ุงู„ุจูƒูˆุฑ ูˆู‡ูˆ ุจุนุฏ ุตู„ุงุฉ ุงู„ูุฌุฑ ุฅู„ู‰ ุทู„ูˆุน ุงู„ุดู…ุณ.

โ€œTidur setelah subuh menghilangkan berkah rezeki dan berkah umur, sebab berkahnya umat ini ada di waktu pagi, yakni waktu setelah shalat subuh sampai terbitnya matahariโ€ (Habib Zain bin Smith, Fawaid al-Mukhtarah, Hal. 590)

Kedua, tidur setelah masuk waktu ashar. Tidur pada waktu ini berisiko mengurangi daya aktif akal pelakunya. Dalam salah satu hadits dijelaskan:

ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุงู…ูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑู ููŽุงุฎู’ุชูู„ูุณูŽ ุนูŽู‚ู’ู„ูู‡ู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽู„ููˆู…ูŽู†ู‘ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ู†ูŽูู’ุณูŽู‡ู

โ€œBarang siapa tidur setelah waktu Ashar, lalu hilang akalnya, maka jangan pernah salahkan kecuali pada dirinya sendiriโ€ (HR Ad-Dailami).

Meski para ulama menghukumi hadits di atas sebagai hadits dlaif namun hadits di atas masih relevan dalam konteks fadlaโ€™il al-aโ€™mal (perbuatan keutamaan).

Pernah ada seseorang yang menyangsikan penjelasan salah satu pendakwah tentang risiko tidur setelah ashar. Akhirnya ia pun mencoba untuk tidur setelah ashar untuk membuktikan apakah benar tidur di waktu tersebut akan berisiko menjadikan pelakunya sebagai orang yang gila. Ia pun mencoba tidur setelah melaksanakan shalat ashar, tidurnya tampak terlelap hingga ia baru terbangun saat waktu sudah menginjak separuh malam (dini hari).

Setelah terbangun ia langsung bergegas pada pendakwah tadi untuk komplain: โ€œEngkau pernah berkata kalau tidur setelah ashar mengakibatkan gila atau hilangnya akal. Lihat aku, aku tidur setelah ashar dan aku sama sekali tidak merasa gilaโ€ ungkap orang tersebut. Pendakwah tersebut menjawab dengan senyum dan penuh ketenangan:

โ€œApakah ada perilaku orang gila yang melebihi hal ini. Engkau datang menuju rumah seseorang pada saat dini hari sedangkan orang-orang dalam keadaan tidur?โ€ Orang yang komplain tersebut diam seketika, ia membenarkan ucapan pendakwah tersebut dengan penuh rasa malu. (Habib Zain bin Smith, Fawaid al-Mukhtarah, hal. 591)

Waktu tidur yang tidak dianjurkan ketiga, adalah tidur sebelum melaksanakan shalat isyaโ€™. Dalam salah satu hadits shahih dijelaskan:

ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽูƒู’ุฑูŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽูˆู’ู…ูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุนูุดูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุญูŽุฏููŠุซูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ูŽุง ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ

โ€œSesungguhnya Rasululullah tidak senang tidur sebelum shalat Isyaโ€™ dan berbincang-bincang setelah shalat Isya’โ€ (HR al-Bukhari).

Sebab dimakruhkannya tidur sebelum melaksanakan shalat isyaโ€™ adalah dikarenakan khawatir akan habisnya waktu isyaโ€™ karena tidur terlalu lelap, seperti halnya kebiasaan kebanyakan orang yang tidur di malam hari namun belum melaksanakan shalat isyaโ€™. Alasan demikian seperti yang dijelaskan dalam kitab โ€˜Umdah al-Qari Syarah Shahih al-Bukhari:

ูˆูŽุฃู…ุง ุณูŽุจูŽุจ ูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุฉ ุงู„ู†ู‘ูˆู… ู‚ุจู„ู‡ูŽุง ููŽู„ูุฃูŽู† ูููŠู‡ู ุชุนุฑุถุง ู„ููŽูˆูŽุงุช ูˆูŽู‚ุชู‡ูŽุง ุจุงุณุชุบุฑุงู‚ ุงู„ู†ู‘ูˆู…ุŒ ูˆูŽู„ูุฆูŽู„ู‘ูŽุง ูŠุชุณุงู‡ู„ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒ ููŠู†ุงู…ูˆุง ุนูŽู† ุตู„ูŽุงุชู‡ูŽุง ุฌู…ูŽุงุนูŽุฉ. ูˆูŽุฃู…ุง ูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุฉ ุงู„ุญูŽุฏููŠุซ ุจุนู’ุฏู‡ูŽุง ููŽู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูุคูŽุฏู‘ููŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุณู‡ุฑุŒ ูˆูŽูŠุฎูŽุงู ู…ูู†ู’ู‡ู ุบูŽู„ูŽุจูŽุฉ ุงู„ู†ู‘ูˆู… ุนูŽู† ู‚ูŠุงู… ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ ูˆูŽุงู„ุฐูƒุฑ ูููŠู‡ูุŒ ุฃูŽูˆ ุนูŽู† ุตูŽู„ูŽุงุฉ ุงู„ุตู‘ูุจู’ุญ

โ€œAdapun sebab makruhnya tidur sebelum isyaโ€™ karena akan berpotensi hilangnya waktu isyaโ€™ dengan menghabiskan waktu untuk tidur dan juga supaya orang-orang tidak menganggap enteng hal demikian, hingga mereka tidur dan meninggalkan shalat isyaโ€™ secara berjamaah. Adapun makruhnya berbincang-bincang setelah isyaโ€™ karena akan mendorong untuk begadang dan dikhawatirkan akan tertidur hingga meninggalkan qiyamul lail, berdzikir saat malam dan meninggalkan shalat subuhโ€ (Badruddin al-โ€˜Aini, โ€˜Umdah al-Qari Syarah Shahih al-Bukhari, juz 5, hal. 66)

Sedangkan waktu tidur yang dianjurkan oleh syaraโ€™ adalah tidur di waktu qailulah. Dalam hadits dijelaskan:

ู‚ููŠู„ููˆุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ููŠู„ู

โ€œTidurlah qailulah (siang hari) kalian, sesungguhnya Syetan tidak tidur di waktu qailulahโ€ (HR ath-Thabrani) Waktu qailulah ini ada yang menafsirkan tidur sebelum waktu dhuhur (tergelincirnya matahari), ada pula yang menafsirkan setelah masuk waktu dhuhur.

Yang pasti, fungsi utama tidur qailulah ini adalah sebagai persiapan agar dapat melaksanakan qiyam al-lail dengan shalat dan berdzikir di malam hari. Seperti yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali:

ุงู„ู‚ูŠู„ูˆู„ุฉ ูˆู‡ูŠ ุณู†ุฉ ูŠุณุชุนุงู† ุจู‡ุง ุนู„ู‰ ู‚ูŠุงู… ุงู„ู„ูŠู„ ูƒู…ุง ุฃู† ุงู„ุชุณุญุฑ ุณู†ุฉ ูŠุณุชุนุงู† ุจู‡ ุนู„ู‰ ุตูŠุงู… ุงู„ู†ู‡ุงุฑ

โ€œTidur qailulah adalah sunnah yang dapat membantu seseorang untuk melaksanakan qiyam al-lail, seperti halnya sahur hukumnya sunnah yang berfungsi untuk membantu seseorang dalam melaksanakan puasa di siang hariโ€ (Al-Ghazali, Ihyaโ€™ ulum ad-Din, juz 1, hal. 338).

Selain itu, syaraโ€™ menganjurkan agar seseorang menjadikan waktu malam sebagai waktu untuk tidur dan istirahat, sedangkan waktu siang untuk bekerja dan beraktivitas. Sebab pola demikianlah yang dipandang ideal dan sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini seperti ditegaskan dalam Al-Qurโ€™an:

ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ูŽ ู„ูุจุงุณุงู‹ ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ุงุฑูŽ ู…ูŽุนุงุดุงู‹

โ€œDan Kami menjadikan malam sebagai pakaian (waktu tidur), dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupanโ€ (QS An-Nabaโ€™, Ayat: 10-11)

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa waktu tidur yang tidak dianjurkan ada pada tiga waktu, yakni tidur setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari, tidur setelah masuknya waktu ashar, dan tidur sebelum melaksanakan shalat isyaโ€™.

Sedangkan waktu tidur yang dianjurkan adalah tidur di waktu qailulah dan menjadikan malam hari sebagai waktu untuk istirahat panjang, sedangkan siang hari dijadikan waktu untuk beraktivitas dengan bekerja.

Ketentuan demikian merupakan tuntunan yang diajarkan oleh syaraโ€™ bagi orang yang memungkinkan untuk melaksanakannya. Berbeda halnya bagi orang yang memiliki tuntutan pekerjaan atau profesi yang beraktivitas semalam suntuk, maka dalam kondisi demikian waktu siang dapat ia gunakan sebagai waktu istirahat
panjang dengan tetap berupaya untuk tidak tidur di waktu-waktu yang dimakruhkan.

Wallahu aโ€™lam.

๐Ÿ‘ณโ€โ™‚๏ธ ~Al Habib Quraisy Bahrun ~

This site is using SEO Baclinks plugin created by Cocktail Family

Leave a Reply

Related Post

%d bloggers like this: