“TEUNGKU SYIEK DI ANJONG” ULAMA BESAR ACEH

0 Comments 6:00 PM


Malam Teungku Syiek Di Anjong

TEUNGKU SYIEK DI ANJONG.
ULAMA BESAR ACEH.
————————————
Nama aslinya :
AL-QUTB AL-HABIB ABUBUKAR BIN HUSEIN BILFAQIH.

TEUNGKU DI ANJONG ADALAH SEORANG ULAMA BESAR YANG HIDUP PADA MASA KERAJAAN ACEH YANG DIPIMPIN OLEH :
SULTAN ALAUDDIN Mahmud SYAH, 1760 – 1781 MASEHI.

Sebutan nama Teungku Di anjong adalah gelar yang dianugerahkan dengan ungkapan Teungku yang “DIANJONG” yang berarti disanjung atau di muliakan.

Dalam versi lain juga dikatakan bahwa Laqab TEUNGKU DI ANJONG diberikan karena beliau sangat banyak menghabiskan ibadahnya dengan shalat, berzikir, membaca ratib DI ANJUNGAN MESJID.

Beliau dikenal sebagai ulama tasawuf namun juga sangat berperan sebagai ULAMA FIQIH dan telah membimbing manasik haji bagi calon-calon jamah haji, baik dari dalam wilayah Kesultanan Aceh, Sumatera maupun dari pulau Jawa, bahkan juga jamaah dari Semenanjung Malaya yang akan menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah melalui Aceh.

Catatan kecil dari warga Peulanggahan menyatakan bahwa Sebutan :
Teungku Di Anjong juga diberikan pada saat beliau menikah dengan putri hulubalang dan tinggal dianjungan rumah mertua beliau daerah Lamgapang, Ulee Kareng.

Istri tersebut kemudian meninggal (tanpa anak) dan beliau kembali ke Hadramaut. Teungku Di Anjong kembali ke Aceh setelah mempersunting Syarifah Fathimah binti Habib Abdurrahman Al-‘Aidid (Aja Eusteri) di negeri asalnya.
Istri beliau dikebumikan tepat disebelah makam Teungku Di Anjong.

Gelar dan nama sebenarnya TEUNGKU DI ANJONG ADALAH :
AL-QUTB AL-HABIB SAYYID ABU BAKAR BIN HUSEIN BILFAQIH.

BeliauY BERASAL DARI WILAYAH HADRAMAUT, DI NEGERI YAMAN.

Menurut catatan, kedatangan beliau ke Aceh pada tahun 1642. Kedatangan Teungku Di Anjong ke Aceh tidak langsung melalui Hadramaut tetapi beliau terlebih dahulu mempelajari dan mengamalkan secara sungguh-sungguh semua kandungan yang terdapat dalam kitab Bidayatul hidayah karya :
HUJJATUL ISLAM IMAM AL-GHAZALI BERSAMA DENGAN DUA ULAMA LAINNYA DI MADINAH.

Ulama yang pertama adalah :
HABIB ABDURRAHMAN BIN MUSTAFA ALAYDRUS, yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Mesir dan yang kedua adalah HABIB SYEIKH BIN MUHAMMAD AL-JUFRI yang berjalan menuju Malabar, India.

Kisah perjalanan tiga ulama ini sampai sekarang masih diceritakan dikalangan ulama di Yaman.

Pada Maret 2009, seorang ulama dari daerah Tarim, Yaman bernama HABIB KAZIM BIN JA’FAR ASSEGAF, telah berkunjung ke Gampong Peulanggahan menziarahi makam TEUNGKU DI ANJONG sekaligus bersilahturahhmi dengan jamaah masjid.

DALAM TAUSIYAH-NYA BELIAU megatakan bahwa :
TEUNGKU DI ANJONG merupakan keturunan Rasulullah SAW, lahir di Hadramaut – Yaman, suatu tempat dimana Banyak lahirnya para Auliya Allah.

Dari sekian banyak Auliya Allah, TEUNGKU DI ANJONG merupakan salah satu ulama yang terkenal dengan kedalaman ilmu, akhlak mulia, semangat dakwah yang kuat dalam menyebarkan Islam dan menegakkan syahadat dimuka bumi, yang kemudian Allah SWT mengantarkan beliau ke Aceh, yang juga disebut :
ASYI OLEH BANGSA YAMAN.
(ASYI-ACEH).

Silsilah Al-Qutb – Al Habib Abubakar bin Husein Bilfaqih ( Teungku Di Anjong ) adalah : HABIB ABUBAKAR BIN HUSEIN BIN UMAR BIN ABUBAKAR BIN AHMAD BIN ABDURRAHMAN BILFAQIH BIN MUHAMMAD BIN ABDURRAHMAN AL ASQA’ BIN ABDULLAH BIN AHMAD BIN ALI BIN MUHAMMAD BIN AHMAD BIN MUHAMMAD ALFAQIH AL MUQADDAM BIN ALI BIN MUHAMMAD SHAHIB MIRBATH BIN ALI KHALA’ QASAM BIN ALWI BIN MUHAMMAD BIN ALWI BIN UBAIDILLAH BIN AHMAD AL MUHAJIR BIN ISA AR-RUMI MUHAMMAD AN NAQIB BIN ALI AL‘URAIDHI BIN JA’FAR AS-SHADIQ BIN MUHAMMAD AL BAQIR BIN ALI ZAINAL ABIDIN BIN SAYYIDINA HUSEIN BIN SAYYIDINA ALI BIN ABI THALIB. k.w. – FATIMAH ZAHRA BINTI RASULULLAH SAW.

Ulama Penyelamat Kerajaan Aceh
Naskah penelitian lapangan yang ditulis oleh Adnan Abdullah dari Pusat Pengembangan Ilmu Sosial Unsyiah (1987) mengemukakan tentang kejadian pada masa SULTAN ALAUDDIN MAHMUD SYAH.

Pada saat itu, kerajaan Aceh megalami DEFISIT NERACA PEMBAYARAN (hutang) dalam jumlah besar kepada kerajaan Inggris.
Hal ini sangat mencemaskan SULTAN karena menyangkut martabat kerajaan.
Konon kabarnya pula, meskipun semua hasil emas yang diperoleh dari tambang di Pariaman di kumpulkan, bersama sama dengan seluruh kekayaan kerajaan, namun jumlahnya masih belum mencukupi untuk melunasi hutang kepada kerajaan Inggris.

SULTAN kemudian diberi pendapat oleh majelis kerajaan agar meminta bantuan TEUNGKU DI ANJONG.
Saran tersebut diterima dan dikirimlah utusan menghadap TEUNGKU DI ANJONG yang dibekali dengan seperangkat hidangan makanan untuk memuliakan ULAMA KASYAF tersebut.

Mengetahui maksud kedatangan utusan tersebut, TEUNGKU DI ANJONG menyarankan agar persoalan ini dibicarakan dengan TEUNGKU SYIAH KUALA, Yang Tak Lain Saat itu sebagai :
MUFTI KERAJAAN ACEH.

Namun, Teungku Syiah Kuala, menyatakan ketidakmampuannya memenuhi permintaan Sultan dan beliau menyatakan bahwa hanyalah TEUNGKU DI ANJONG, dengan izin Allah SWT, sanggup membantu SULTAN.

TEUNGKU DI ANJONG pun bersedia dan meminta untuk disediakan beberapa buah goni
ke salah satu tempat di pinggiran Krueng Aceh (sekarang dikenal dengan Pante pirak).

Semua goni tersebut diisi dengan pasir dan diangkut ke Pantai Cermen, Ulee Lheu.
Sedangkan hidangan dari Sultan beliau kembalikan dengan pesan, bahwa salah satu dari hidangan tersebut hanya boleh dibuka oleh Sultan sendiri.

Ketika Sultan membuka hidangan itu, ternyata isinya EMAS DAN PERMATA. Begitu juga pasir dalam goni yang dibawa ke Pantai Cermen sudah berubah menjadi Perak. Dengan logam mulia itulah SULTAN ACEH MEMBAYAR UTANG KEPADA KERAJAAN INGGRIS.

Dengan demikian, martabat Aceh yang nyaris luntur karena tidak mampu membayar hutang tetap terpelihara dalam pandangan kerajaan Inggris, karena munculnya ULAMA KASYAF dalam masyarakat.

MASJID TEUNGKU DI ANJONG adalah sebuah julukan yng diberikan masyarakat Peulanggahan dimana tempat masjid itu berdiri untuk mengenang dan menghormati sang ulama tokoh pendiri mesjid tersebut.

Status tanah mesjid ini adalah tanah wakaf seluas 4 Ha. Sebelum mendirikan mesjid, ulama ini terlebih dahulu memanfaatkan rumahnya (Rumoh Cut), atau rumah kecil yang sangat sederhana sebagai tempat pengajian dan asrama bagi murid-muridnya yang memperdalam agama Islam dan bermalam disana.

Oleh karena perkembangannya semakin hari semakin pesat, rumahnya tidak mampu lagi menampung murid-muridnya, akhirnya beliau mendirikan mesjid yang bukan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga dimanfaatkan untuk bermusyawarah, kepentingan pengajian dan lain-lainnya.

MESJID TEUNGKU DI ANJONG selain berfungsi selain berfungsi sebagai sarana tempat shalat dan kegiatan-kegiatan ibadah lainnya, pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia mesjid ini pernah menjadi markas perjuanagan kemerdekaan oleh laskar perjuangan Aceh dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari rongrongan penjajah belanda. Jadi masjid ini tercatat sebagai salah satu mesjid bersejarah di Kota Banda Aceh.

Mesjid Teungku Di Anjong yang ada sekarang dulunya dikenal oleh masyarakat dengan sebutan dayah tiga lantai.
LANTAI PERTAMA DISEBUT : DENGAN HAKIKAT,
LANTAI KEDUA DISEBUT :
TAREKAT,
LANTAI KETIGA DISWBUT :
MAGHRIFAT.

bahwa makam TEUNGKU DI ANJONG menjadi tempat melakukan tradisi Peuleuh Kaoy atau bernazar, dan mencatatnya sebagai Ulama yang paling dihormati di Aceh.

Di kawasan Mesjid Teungku Di Anjong dahulunya juga dibangun semacam asrama untuk menampung jemaah haji yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan : RUMOH RAYA.

Nama desa Peulanggahan juga diperkirakan berasal dari kata persinggahan, karena banyaknya orang yang singgah dahulu di kawasan ini sebelum menuju Mekkah untuk berhaji.

Bisa dikatakan bahwa gelar :
Aceh Serambi Mekah sangat erat kaitannya dengan peran TEUNGKU DI ANJONG dan dukungan kerajaan Aceh pada masa itu.

ALASAN TUNGKU DI ANJONG
HIJRAH KE ASYI-ACEH.

Terkait dengan bagaimana kisah awal-mula kedatangan TUNGKU DI ANJONG KE ACEH.
berdasarkan dari catatan Habib Zain bin Smit di Madinah,
Tgk. Fahmi sebagai mana dikatakan [email protected] sehari sebelum haul menceritakan,
sebelum keberangkatan ke Aceh, TUNGKU DI ANJONG TERLEBIH DAHULU BERZIARAH KE MAKAM SERIBU PARA WALI DI ZANBAL.

Setelah itu ke Madinah dan berjumpa dengan sahabatnya dengan Sayyid Abdurrahman bin Mustafa Alydrus,
Sayyid Syaikh Muhammad Al-jufri, mereka adalah pengamal kitab-kitab Bidayatul Hidayah karangan Hujjatul Islam Imam Ghazali, dan bersama belajar di Makam Rasulullah.

Hingga suatu ketika,
TUNGKU DI ANJONG BERTEMU DENGAN NABI MUHAMMAD SAW secara terjaga, dalam pertemuan tersebut beliau mendapat pesan dari nabi SAW untuk berdakwah KE ACEH.

Setiba di Aceh, atas empat hektar tanah di Peulanggahan beliau membangun dayah dan juga difungsikan sebagai tempat pelatihan manasik haji bagi calon jamaah yang datang dari berbagai wilayah di dunia Melayu Asia Tenggara.

Dan kemudian beliau dikenal sebagai ulama sufi dan dalam kehidupannya serta aktif dalam membina peradaban Kesultanan Aceh Darussalam bersama sultan.

Terkait kondisi tempat peninggalan TUNGKU DI ANJONG itu masa ini, MASJID KAYU KHAS ACEH DARUSSALAM yang dibangun oleh :
TEUNGKU DI ANJONG itu juga tak luput dari terjangan ombak raksasa tsunami,
hingga kitab-kitab, termasuk kitab yang beliau tulis sendiri kini tidak diketahui lagi keberadaannya.

Khadam Makam mengatakan, terkait peninggalan TUNGKU DI ANJONG, ketika puluhan tahun yang lalu semasa makam itu di Khadam oleh keluarga Bafadhal, lantai tiga masjid itu diperbaiki, karenanya kitab-kitab tulisan tangan, dan peninggalan TUNGKU DI ANJONG lainnya seperti kaca mata, surban dan kopiah yang tersimpan di lantai tiga masjid diturunkan.

Kini peninggalan-peninggalan itu telah hilang bersama musibah tsunami datang.
Setelah perbaikan terjadi pada masa khadam Bafadhal, kemudian dimasa selanjutnya, pengusaha setempat, H. Dimurthala juga kembali memperbaiki makam seperti yang terlihat seperti sekarang.

SEKIAN……!
Mohom maaf bila na kesalahan
Dalam catatan nyoe.

sumber :
Dari berbagai sumber yang
Di kumpulkan.

GROP KISAH ULAMA ACEH
WALLAHU’AKLAM
WASSALAM

This site is using SEO Baclinks plugin created by Cocktail Family

Leave a Reply

Related Post

%d bloggers like this: