POTRET KEHIDUPAN SEORANG PEJABAT DIMASA UMAR BIN KHOTTOB RODHIYYALLAHU’ANHU

0 Comments 12:59 PM


Istimewa

POTRET KEHIDUPAN SEORANG PEJABAT DIMASA UMAR BIN KHOTTOB RODHIYYALLAHU’ANHU

_________________________________

Kita masih bertamasya di tengah indahnya pribadi yang menawan lagi mulia, seorang sahabat Nabi shollallaahu’alahi wa sallam yang bernama Said bin Amir Al-Jumahy, pribadi yang sangat waro’ lagi zuhud.

Kali ini kita akan disuguhkan kisah beliau bersama Amirul mukminin Umar bin Khottob rodhiyyallahu’anhuma. Tidak lama berselang setelah peristiwa sebelumnya, datanglah Amirul mukminin Umar bin Khottob ke kota Himsh, si kota Kufah kecil, telah kita sebutkan pada status sebelumnya mengapa kota Himsh dijuluki sebagai Kufah kecil. Dalam kunjungan tersebut, Umar pun menerima keluhanan penduduknya. Mereka mengeluhkan empat perkara yang terdapat pada gubernur mereka, yang mana empat perkara itu, yang satu lebih besar daripada yang lainnya. Maka Umar pun mengumpulkan mereka bersama gubernurnya yaitu sahabat Said bin Amir Al-Jumahy di dalam satu majelis.

Umar berharap kepada Allah agar dugaan beliau selama ini tidak salah, karena beliau sangat mempercayai sang gubernur Said bin Amir Al-Jumahy.

Maka Umar pun mulai berbincang dengan mereka.

Umar : ” apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian ini? “

Mereka menjawab : ” yang pertama, beliau tidaklah keluar menemui kami setiap harinya kecuali setelah matahari sudah meninggi “

Umar : ” apa jawaban anda wahai gubernur Said ? “

Maka sang gubernur diam sejenak, kemudian beliau mulai menjawab pertanyaan Umar tersebut.

Said : ” demi Allah, sesungguhnya aku tidak suka untuk mengatakan hal ini, berhubungan harus aku jawab,maka akan aku jawab, sesungguhnya keluargaku tidak memiliki seorang pelayan,maka setiap pagi aku harus membuat adonan tepung untuk keluargaku, lalu aku harus menunggu sampai adonan itu mengembang, baru aku olah menjadi roti,kalau sudah jadi baru aku berwudhu dan keluar rumah untuk menemui masyarakat “.

Umar : ” apa lagi yang kalian keluhkan ? “

Mereka menjawab : ” beliau tidak mau menerima kunjungan seorang pun di waktu malam “

Umar : ” apa jawaban anda,wahai gubernur Said ? “

Said : “demi Allah, sebenarnya aku juga kurang suka untuk memaparkan hal ini di depan umum. Sungguh aku telah jadikan waktu siangku untuk melayani mereka,maka waktu malamku kujadikan untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa jalla “

Umar : ” apalagi yang kalian keluhkan lagi dari beliau ? “

Mereka menjawab : ” sesungguhnya beliau dalam sehari setiap bulannya tidak keluar rumah menemui kami “

Umar : ” apa lagi ini,Said? “

Said : ” aku tidak memiliki pelayan,wahai Amirul mukminin,dan aku hanya punya satu baju saja yang melekat di badan saya ini,maka aku mencucinya setiap bulan sekali sampai aku menunggu baju ini kering, kemudian aku baru bisa menemui mereka di sore hari”

Umar : ” apalagi yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?”

Mereka menjawab : ” suatu ketika terkadang beliau jatuh pingsan sehingga beliau tidak menyadari orang-orang yang berada disekitarnya”

Umar : ” bagaimana jawaban anda, wahai Said?”

Said : ” Aku pernah menyaksikan kematian Khubaib bin Adi ketika aku masih musyrik, aku melihat kaum Quraisy memotong-motong anggota tubuhnya seraya mengatakan, “apakah kamu senang kalau Muhammad yang berada di posisimu saat ini?” Khubaib pun menimpali, “demi Allah, aku tidak suka jika aku berada dalam keadaan aman bersama anak dan keluargaku sedangkan Nabi Muhammad shollallaahu’alahi wa sallam tertusuk duri”. Demi Allah, jika aku teringat peristiwa hari itu bagaimana aku membiarkan tidak menolongnya, maka aku mengira Allah tidak akan mengampuniku, maka aku pun pingsan.

Maka seketika itu, Umar mengatakan : ” segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakan persangkaan baikku terhadapnya “.

Kemudian Umar memberikan kepada gubernur Said seribu keping uang emas untuk memenuhi kebutuhannya.

Maka ketika istri beliau melihat hal itu, iapun berkata :
” Alhamdulillah yang telah mencukupi kita karena sebab pelayanan mu, belilah untuk kebutuhan kita dan sewalah seorang pembantu”

Beliau berkata : ” apakah engkau mau yang lebih baik dari itu, istriku? “

Istrinya : ” apakah itu ?”

Beliau berkata : ” kita serahkan uang itu kepada yang telah memberikannya kepada kita, kita lebih membutuhkan pahala apa yang kita lakukan kelak “

Istrinya mengatakan : ” apa itu ? “

Said : ” kita berikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik ” ( maksudnya disedekahkan harta itu di jalan Allah)

Istrinya menimpali : ” siap suamiku, semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik kepadamu “

Maka tidaklah beliau meninggalkan tempat itu, kecuali kepingan uang-uang emas itu telah beliau letakkan di dalam bungkusan kantong-kantong, kemudian beliau mengatakan kepada salah seorang anggota keluarganya, ” pergilah bagikan uang ini kepada si janda Fulan, kepada anak-anak yatim si anu, kepada keluarga miskin si anu, kepada keluarga fakir si anu “. Allahu Akbar !!

Semoga Allah meridhoi sahabat yang mulia Said bin Amir Al-Jumahy, seorang yang lebih mendahulukan dan mementingkan yang lain meskipun dirinya sangat membutuhkan…

______________________________

Disadur dari kitab : Shuwar min hayฤti ashohฤbah

( Mata kuliah Muthola’ah di Ma’had ‘Ali Lil Aimmah wal Khutoba )

Oleh : Ma’ruf Khoirul Musthofa

This site is using SEO Baclinks plugin created by Cocktail Family

Leave a Reply

Related Post

MANAQIB LENGKAP IMAM ABDULLAH BIN ALWI AL-HADDAD RAMANAQIB LENGKAP IMAM ABDULLAH BIN ALWI AL-HADDAD RA



*๐Ÿ“šุงู„ุณูŽู‘ู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู* *๐ŸŒนุงูŽู„ู„ู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ูู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ู ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู๐ŸŒน* *ุจูุณู’ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู’ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู…ู* *๐Ÿ’–MANAQIB LENGKAP IMAM ABDULLAH BIN ALWI AL-HADDAD RA๐Ÿ’–*`Beliau adalah Syeikh Al-Islam,gyu maha

%d bloggers like this: